Yang Baru di Kulon Progo, Curug Sluwok2 min read

Tidak kalah dengan daerah lainnya di Yogyakarta, Kulon Progo juga banyak menyimpan harta. Salah satu yang mulai banyak dikembangkan adalah wisata air terjun, tidak terkecuali Curug Sluwok.

Air terjun ini termasuk baru dalam jajaran wisata di Kulon Progo. Baru dalam hal ini bukan berarti baru ditemukan, namun memiliki makna baru dikelola oleh warga dan mulai dipublikasikan. Dilihat dari beberapa papan penujuk yang mengarah ke sana, terdapat label “KKN UII 2015”. Ah, inilah satu wujud nyata pengabdian mahasiswa pada masyarakat dalam bentuk pariwisata pikir saya.

Air terjun ini juga saya dapatkan tanpa sengaja ketika niat awal ingin menuju ke Curug Sidoharjo. Dikarenakan musim hujan, air terjun adalah salah satu destinasi yang tepat untuk mendapatkan stok foto yang indah. Sayangnya, niat awal sedikit terganggu karena adanya penunjuk ke arah Curug Sluwok, rasa penasaran jelas menghampiri diri untuk menuju ke sana.

Lokasi Curug Sluwok sendiri tidak terpaut jauh dari Curug Sidoharjo, hanya berselang satu dusun untuk mencapai air terjun dari air terjun lainnya.

Jika berangkat dari Tugu Yogyakarta, arahkan kendaraan pribadi menuju barat melewati Jalan Godean dan jalur lingkar sampai melewati jembatan Sungai Progo. Beberapa kilometer di depan, bakal menemui perempatan Kenteng-Nanggulan, ambil jalan ke kanan sampai menumukan perempatan Pasar Dekso. Dari perempatan ini, ambil belokan ke kiri menuju Kecamatan Samigaluh. Ikuti saja jalan lurus sampai menemukan penunjuk jalan menuju Curug Sidoharjo/Sluwok di kanan jalan.

Oh ya, dari perempatan Pasar Dekso kita bakal melewati satu tempat wisata, namanya Goa Sriti. Salah satu tempat yang layak dikunjungi selagi masih punya waktu sebelum ke air terjun. 😉

Sampai di lokasi, kita bisa memarkirkan kendaraan di salah satu rumah warga yang kebetulan juga merupakan kepala dusun di sana, Dusun Keweron namanya. Tarif parkir sendiri dikenakan Rp.5.000,00 untuk kendaraan roda dua dan asiknya tidak (belum) dikenakan biaya masuk menuju tempat wisata.

Dari lokasi parkir sendiri, kita masih perlu trekking kurang lebih 10-20 menit menuju lokasi. Di musim hujan, jalanan begitu licin, ditambah sempit dan rawan longsor. Untungnya, beberapa sudah mulai dibenahi dengan disemennya beberapa bagian. Selagi berjalan, jangan lupa untuk menikmati pemandangan berupa pegunungan Menoreh.

Curug Sluwok
Curug Sluwok

Di sekitar air terjun, terdapat sebuah warung warga. Sayangnya, warung ini hampir tidak pernah buka selain akhir pekan atau libur nasional, di mana pengunjung ramai berdatangan. Selain warung, beberapa fasilitas seperti bangku dan toilet juga sudah tersedia tentunya.

Di musim hujan, air terjun ini memberikan cucuran yang deras dari ketinggian. Dibandingkan dengan beberapa air terjun lainnya, Sluwok termasuk tinggi dengan posisi lurus ke bawah. Bisa dikatakan, Curug Sluwok seperti Curug Sidoharjo versi mini. Warna kolamnya menampilkan warna kehijauan yang memberikan kesegaran saat berenang di sana.

 

Leave a Reply