Juguran Blogger Indonesia: Potensi Curug Wana Suta di Desa Dermaji4 min read

Belum berpuas diri menghabiskan cerita di Kalisari, kali ini saya berpindah topik ke Desa Dermaji. Desa yang berada di ujung barat Kabupaten Banyumas yang bersinggungan langsung dengan desa yang berada di Kabupaten Cilacap.

Sebenarnya, masih ada dua topik yang akan dibahas pada artikel khusus Desa Kalisari, yaitu proses pembuatan tahu serta pengolahan limbah cair tahu menjadi biogas. Tapi, alangkah menariknya jika ceritanya berpindah-pindah dari satu desa ke desa lainnya. Walau, yang saya kunjungi hanya ada dua desa.

Cerita sebelumnya:

Setelah malam harinya dibuat merinding menonton pertunjukkan Sintren yang diadakan di Balai Desa Dermaji, paginya kami berkesempatan menikmati keindahan alam yang ada di sana. Salah satu curug yang berpotensi mendatangkan wisatawan sebagai salah satu pesona yang ada di Dermaji. Curug Wana Suta namanya.

Perjalanan kali ini ditemani langsung oleh Pak Kades Dermaji, Bayu Setyo Nuroho. Tak ketinggalan juga, ditemani asisten beliau yang tak kalah kocak, Pak Pri Fauzi namanya.

Mesuem Naladipa

Sebelum berangkat ke tujuan utama, Curug Wana Suta, kami sempat singgah dahulu ke sebuah musem yang ada di Desa Dermaji, namanya Museum Naladipa. Museum ini berada persis di dalam satu wilayah bangunan Balai Desa. Tak hanya museum, di bangunan tersebut juga terdapat ruang pendidikan lain, yaitu perpustakaan.

Di Museum Naladipa sendiri ditampilkan beberapa barang masa lalu. Barang-barang yang umumnya biasa digunakan oleh moyang kita dari berbagai generasi dan sudah jarang ada ditemukan saat ini.

Museum Naladipa sendiri usinya sudah mencapai 3 tahun. Tepat hari ini, 17 Juni 2016, museum tersebut merayakan ulang tahunnya yang ke-3.

Curu Wana Suta

Bertolak dari rumah Pak Kades tempat kami menginap semalam, melewati jalan naik-turun curam, menuju jalan raya sebagai penghubung Lumbir dan Ajibarang. Dari jalan ini saja, kami sudah disuguhkan pemandangan indah berupa persawahan dengan latar belakang hutan pinus, kadang disebut juga sebagai “Ubudnya” Desa Dermaji. Kesempatan ini tentu saja tak dilewatkan dengan melakukan aktivitas foto-foto.

"Ubudnya" Desa Dermaji
“Ubudnya” Desa Dermaji

Dari jalan raya dengan pemandangan eksotisnya, kami melanjutkan perjalanan tak jauh ke selatan menggunakan kendaraan. Perjalanan yang tak butuh waktu lama itu berhenti di sebuah jembatan. Tempat inilah awal keberangkan kami untuk menuju Curug Wana Suta. Ya, curugnya sendiri berada agak jauh dari jalan raya, sehingga kita diharuskan untuk trekking dengan jarak dan medan yang melelahkan.

Pembangunan di Desa Dermasji, pemasangan pipa air
Pembangunan di Desa Dermasji, pemasangan pipa air

Tak semua dari anggota Juguran Blogger Indonesia ikut dalam penjelajahan alam kali ini, mengingat beberapa saat sebelumnya sudah diingatkan oleh Pak Kades bahwa jalannya cukup sulit untuk dilewati. Ah sayang sekali beberapa di antara kami menyerah duluan sebelum melihat keindahan. 😀

Melewati beberapa kebun dan pondok milik warga, kami terus menuruni jalan yang licin dan basah sisa hujan kemarin. Keringat terus bercucuran, nafas mulai tersengal-sengal, dan beberapa kali botol air minum dibuka untuk melepas dahaga. Tak surut jua semangat kami untuk terus melanjutkan perjalanan menuju destinasi yang kami inginkan.

Di tengah-tengah kondisi yang kepayahan, seorang blogger selalu mengatakan “Sudah sampai Dermaji loh, masa ga penasaran dengan curugnya? Kapan lagi kan ke sini?”. Ah ada benarnya juga. Dan semangat pun membara lagi.

Kondisi jalan menuju curug
Kondisi jalan menuju curug

Sedikit demi sedikit lokasi yang ingin kami tuju semakin dekat, terdengar dari suara airnya yang semakin keras.

Dan, boom!
Mulai nampaklah beberapa bagian air terjun tersebut. Sumringah senyum nampak di bibir ketika langkah kaki semakin cepat menujunya.

Curug Wana Suta dari kejauhan
Curug Wana Suta dari kejauhan

Sayangnya, kami tak dapat mendekati dasar curug tersebut karena jalan yang biasa dilalui longsor. Menurut perkiraan Wawan, longsor tersebut sudah lama terjadi, terlihat dari tekstur tanahnya, imbuhnya.
Atau, bisa juga kami menemukan jalan yang keliru sehingga tak bisa menggapai dasar cucuran Wana Suta tersebut. 😀

Dengan perasaan sedikit kecewa, kami melanjutkan perjalanan. Bukan pulang, tapi menuju ke curug lain, curug yang lebih kecil bentuknya dan entah apa namanya.

Ya, Pak Pri sebelumnya menjelaskan, di sana terdapat dua curug. Pertama adalah Wana Suta yang dapat dilihat dari ketinggian sedangkan curug lainnya dapat dituju dengan berjalan turun lagi beberapa ratus meter jauhnya.

Dari posisi kami melihat Curug Wana Suta dari jauh, butuh waktu tambahan sekitar 10 menit untuk ke curug lain tersebut.

Sampai di curug lainnya, lagi-lagi kami sedikit dibuat kecewa. Posisi sampai kami ke lokasi terbalik. Alih-alih tiba di dasar curug, kami malah mendapati berada di atas cucuran air tersebut. Alhasil, kami tak bisa menemukan keindahan jatuhnya air dari curug tersebut. Menuruni curug tersebut pun dirasa sedikit mustahil, karena belum ada jalan khusus untuk menujunya. Posisinya pun cukup tinggi, bisa membahayakan pengunjung jika menuruninya tanpa alat pengaman. Ke depannya, mungkin bisa dikembangkan sebaga wisata menantang, seperti rapeling misalnya.

Daripada dibuat kecewa berlebihan, saya (kami) putuskan untuk berfoto ria mengambil objek sekenanya. Saya sendiri mengkhususkan diri mengambil beberapa bagian aliran air dengan mode slow speed, sembari melatih keterampilan batin saya.

Wawan dan pesona kegantengannya
Wawan dan pesona kegantengannya

Puas dengan berfoto, kami kembali ke titik awal keberangkatan, jembatan. Perjalanan kembali ke jembatan jauh lebih melelahkan dibandingkan dengan berangkat. Jika waktu berangkat didominasi oleh turunan, maka tentu saja kembalinya hanya berupa tanjakan.

Beruntungnya, Pak Kades Bayu dan Pak Pri sudah berbaik hati dan begitu pengertiannya menyiapkan kelapa muda untuk peserta. Ah, segarnya! 😀

Perjalanan ditutup dengan menyantap kelapa muda
Perjalanan ditutup dengan menyantap kelapa muda

11 thoughts on “Juguran Blogger Indonesia: Potensi Curug Wana Suta di Desa Dermaji

  1. Trekking menuju air terjun yang lumayan, tapi belum maksimal nemu air terjun Wana Suta yang keren yah. PeeR yang kudu dituntaskan pas balik ke Dermaji lagi hahaha.

  2. jebulnya itu bukan longsor, tapi emang kalau kita mau ke curugnya harus nyari jalan sendiri. hahaha, sedih deh, padahal wes cerak wingi

Leave a Reply