Jangan Panggil Aku “Traveler”2 min read

Belakangan ini, traveling telah menjadi topik hangat yang menciptakan gairah tersendiri bagi yang mendengarnya. Sebentar mendengar kata ini, orang selalu tertarik dan ingin segera pergi traveling seperti aku. Bagaimana tidak, dunia khususnya Indonesia tiada hentinya menawarkan sejuta keindahan yang tak ada duanya. Tentunya membuat banyak orang berbondong-bondong mulai berburu tiket dan akomodasi.

Seringkali orang yang memiliki hobi traveling menobatkan dirinya sendiri sebagai seorang traveler. Walau tidak semua, namun menyematkan diri dengan embel-embel traveler memiliki tanggung jawab yang berat bukan?

Dari teman kantor, teman main, bahkan teman di social media, mereka bertanya: “kamu traveler ya? Kamu pendaki gunung ya?”

Sam Poo Kong
Sam Poo Kong

Rasanya aku belum pantas saja menyandang nama-nama itu. Bagaimana tidak, bagiku seorang traveler itu murni pejalan, pejuang, dan petualang, bukan seperti aku, hanya jalan-jalan dengan menghabiskan cuti tahunan dari hasil sebuah pekerjaan.

Aku juga bukan pendaki gunung. Karena jika aku pendaki gunung tentunya sudah banyak gunung yang kudaki. Padahal seringkali aku mengoceh kalau mendaki gunung itu tidak menyenangkan dan melelahkan. Masih pantas aku dibilang pendaki gunung?

Jangan panggil aku traveler. Karena jika aku seorang traveler, sudah banyak destinasi yang aku kunjungi. Tentunya dengan banyaknya destinasi yang ingin aku sambangi butuh tenaga, waktu dan dana juga kan? Dan aku harus mengatur semuanya sedemikian rupa agar cocok dengan waktu dan biaya pas-pasan sekelas karyawan.

Brown Canyon
Brown Canyon

Dari sekian destinasi yang sudah pernah aku kunjungi, daftar terbanyak adalah destinasi lokal. Selain murah meriah, aku tak perlu cukup banyak menyiapkan waktu. Cukup memanfaatkan satu kali libur di setiap minggunya.

Ngomong-ngomong, siapa sih yang tidak punya bucket list? Aku punya. Sudah lama menuliskannya di buku catatanku, entah kapan terwujudnya impian itu, setidaknya sebelum mati aku harus ke sana. Ya berburu milky way di Pulau Kenawa, mengecup pipi Orangutan di Tanjung Puting, hidup di perairan Indonesia selama di Pulau Komodo, membagikan buku cerita untuk anak-anak di Wae Rebo, pergi ke Thailand ke negara di mana penduduk lokalnya tak semua bisa berbahasa inggris, dan aku juga pengen menjalankan sholat lima waktu di Istanbul, negara yang dikenal dengan ribuan masjidnya.

Simpang Lima Semarang
Simpang Lima Semarang

Ah, rasanya tak adil jika aku masih sering disebut traveler, tanggung jawabnya berat. Aku lebih suka disebut penikmat alam semesta.

Bucket list kalian, isinya apa aja?

6 thoughts on “Jangan Panggil Aku “Traveler”

  1. Weleh jalannya sudah lumayan jauh dan banyak juga ya mbak. Wah. Aku jadi malu baru dikit dan masih sekitaran propinsi Riau aja terus sama tetangga dan ibukota aja. Salam kenal mbak

    1. Sama pun mbak. Pejuang cuti tahunan, kalo ada waktu ya jalan, kalo ada uang ya jalan. Kalo gag ada keduanya yaudah dirumah aja. Muahahaha. ??

  2. Selain Turki, pengen ke Maroko juga, kaak. Kalo lokal ya Sabang, Anambas, Belitung, Tanjung Puting, Ramang Ramang, Toraja, Duh kok banyak ya

  3. Aku jg kak, bkn traveler. Hanya kembang tebu sing kabur kanginan. *ehgimanaaa btw seriusan yah bucketlist ada ngecup pipi orangutan. Di tunggu fotonya… ???

    1. Yah Mas, namanya juga ekspektasi, perkara disononya kayak gimana ya lihat nanti deh. Muahahaha. ??

Leave a Reply